Nalang Mulya Utama

Latest Posts

GHIBAB DALAM SHOLAT

Suatu hari saya berjamaah shalat Maghrib bersama Kyai Sendal Jepit, guru sekaligus teman saya.
Saya benar2 tak menyangka, betapa guru yg saya agungkan ternyata belepotan dalam membaca ayat2 Al-qur’an. Tajwid maupun Mahraj yg harusnnya dipatuhi tapi malah di langgar. Saya jadi berburuk sangka dan berniat mengingatkannya setelah shalat.

Setelah menyelesaikan shalat, belum saya sempat menyampaikan keinginan hati, tiba2 kyai Sendal jepit berkata..

“Nak, Gusti اَللّهُ. Itu tak hanya melihat betapa fasih dan indahnya kamu melafalkan ayat-ayatNya, namun ia lebih melihat pada hatimu ketika menghadap-Nya. Apalah gunanya kefasihan dan keindahan bacaan jika hatimu tak hadir ketika sedang menyembah-Nya”

Nah, Lho, bagaimana kyai tau apa yg saya pikirkan…

___________________

“Kadar kecintaan dan penghambaan kita tak hanya diukur dari sisi syariat saja. Selain mengusahakan syariat, Sesungguhnya hakikatlah yang akan membawa diri kita masuk jauh lebih dalam Tuhan.”

NABI DAN RASUL

ــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــمِ

Pengertian Nabi dan Rasul

Nabi dan juga rasul adalah orang yang mendapatkan wahyu dan petunjuk dari Allah. Perbedaan antara nabi dan juga rasul ini ada di dalam kewajiban nabi dan juga rasul untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada umatnya.

Nabi mendapatkan wahyu, tetapi tidak diwajibkan menyampaikan wahyu tersebut. Sedangkan rasul wajib menyampaikan wahyu yang dia terima kepada umatnya.

Nabi atau pun rasul adalah laki-laki pilihan Alloh SWT. Allah SWT telah memiliki semua lelaki tersebut sebagai utusanNya di muka bumi ini. Alloh menugaskan kepada nabi dan juga rasul untuk mengajarkan kepada seluruh manusia tentang ajaran yang sebenarnya.

Para nabi merupakan orang yang diberi wahyu (ajaran Islam yang mengandungi peraturan tertentu) oleh Allah S.W.T sebagai panduan hidup dirinya sendiri.Sedangkan Rasul adalah nabi yang diperintahkan oleh Allah S.W.T untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada manusia sejagat pada zamannya.

سُبْحَانَ اللّهُ وَاَلْحَمْدُلِلّهِ وَلاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ ​اَللّهُ اَكْبَرُ

NAFSU AMARAH

TASAWUF AL-HIKAM

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــمِ

HIKMAH 5 :
NAFSU AMARAH

Amarah adalah martabat nafsu yang paling rendah dan kotor di sisi hukum Allah untuk makhlukNya, segala yang terbit darinya adalah tindakan kejahatan yang merupakan dorongan sifat mazmumah (tercela). Pada level ini hati nurani tidak akan memancarkan sinarnya karena akan terhijab oleh dosa, lapisan lampu makrifat redup terselimuti nafsu. Bila dibiarkan terus hingga sinar hati nurani menjadi padam maka manusia jenis ini mencapai khatama (tertutup dan terkunci hatinya), tiada cara untuk mencari jalan menyucikannya lagi.
Karena hatinya terus kotor dan diselaputi oleh berbagai penyakit sampai akhir hayatnya.

Bagi mereka, konsep hidupnya adalah sekali, hingga kebutuhan utama hidupnya semata-mata untuk dinikmati sepuas-puasnya tanpa mengenal batas. Baik atau jahat itu sama saja di sisinya, bahkan ia merasa betah dalam keadaan seperti ini. Dia merasa sempurna sebagai makhluk yang ‘merasa’ terjadi dengan sendirinya secara alami dan kebetulan hingga segala sesuatu yang ia peroleh diyakininya atas jerih payahnya sendiri. Ia bergembira bila menerima nikmat, tetapi berduka cita dan mengeluh bila tertimpa kesusahan.

Amarah  adalah martabat nafsu yang paling rendah dan kotor di sisi Allah. Segala yang lahir darinya adalah tindakan kejahatan yang penuh dengan perlakuan mazmumah (kejahatan/ keburukan). Pada tahap ini hati nurani tidak akan mampu untuk memancarkan sinarnya karena hijab-hijab dosa yang melekat tebal, lapisan lampu makrifat benar-benar terkunci. Dan tidak ada usaha untuk mencari jalan menyucikannya. Kerana itulah hatinya terus kotor dan diselaputi oleh pelbagai penyakit. 

اَسْتَغْفِرُ اللهَ اْلعَظِيْمَ

POTENSI MANUSIA TERHAMBAT OLEH NAFSU

TASAWUF AL-HIKAM

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــمِ

HIKMAH 5 :
POTENSI MANUSIA TERHAMBAT OLEH NAFSU

Ada sekolompok orang menganggap hawa nafsu sebagai “syaitan yang bersemayam di dalam diri manusia,” yang bertugas untuk mengusung manusia kepada kefasikan atau pengingkaran. Mengikuti hawa nafsu akan membawa manusia kepada kerusakan. Akibat pemuasan nafsu jauh lebih mahal ketimbang kenikmatan yang didapat darinya. Hawa nafsu yang tidak dapat dikendalikan juga dapat merusak potensi diri seseorang. Sebenarnya setiap orang diciptakan dengan potensi diri yang luar biasa, tetapi hawa nafsu dapat menghambat potensi itu muncul kepermukaan.

Potensi yang dimaksud di sini adalah potensi untuk menciptakan keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya. Namun karena hambatan nafsu yang ada pada diri seseorang potensi-potensi tadi tidak dapat muncul kepermukan (dalam realita kehidupan). Maka dari itu mensucikan diri atau mengendalikan hawa nafsu adalah keharusan bagi siapa saja yang menghendaki keseimbangan, kebahagian dalam hidupnya karena hanya dengan berjalan di jalur-jalur yang benar sajalah menusia dapat mencapai hal tersebut. 

Nafsu mempunyai 2 pengertian yang mendasar, yakni:
1. Keinginan manusia yg bersemayam di segumpal daging sebesar kepalan tangan yang berada diantara dua lambung setiap badan, yang ada pada tiap insan yang menghubungkan kebutuhan jasad dengan ‘Latifah Rabbaniyah’ dan juga terdapat pada hewan tapi tidak memiliki jalur ‘Latifah Rabbaniyah’
(kelembutan ilahi).
2. Salah satu sebutan untuk kelakuan ‘Latifah Rabbaniyah’ pada setiap insan yang berkehendak pada kenyang, menang, senang dan tenang, yakni sesuatu yang ghaib yang tiada dapat dilihat dengan mata kasar. Ada 7 martabat nafsu, yang susunannya bisa berbeda-beda menurut para penuturnya.

سُبْحَانَ اللّهُ وَاَلْحَمْدُلِلّهِ وَلاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ ​اَللّهُ اَكْبَرُ

Warna Warni Esoteris

Konon, terjadilah percekcokan antara 2 kelompok dihadapan raja. Mereka tak mau kalah dan mengalah, masing2 dari mereka menganggap bahwa dirinya seniman terbaik di dunia.

“Kami adalah seninam-seniman terbaik di dunia” kata kelompok pertama

“Kami lebih punya hasrat keindahan dan keahlian daripada kalian” jawab kelompok kedua

Sang Raja menyaksikan perdebatan kedua kelompok tersebut. 
“Aku akan menguji kalian, siapa yg paling benar.akan aku sediakan masing2 rumah yang Saling berhadapan dan kalian hias rumah tersebut dgn indah. Yg terindah adalah pemenangnya.

Kelompok pertama meminta 100 warna kepada raja untuk menghias rumah tersebut dan raja mengabulkannya.

Kelompok kedua tidak meminta apapun dari raja.

Tiba waktu yg telah ditentukan, kelompok pertama selesai menghias rumah. Ditabuh gendering dan mereka menari2 kegirangan.
Raja pun diundang untuk menilai rumah mereka, begitu Raja masuk kedalam, beliau sangat takjub melihat perpaduan warna yg dihasilkan oleh kelompk pertama. Beribu pujian meluncur begitu saja dari mulut sang Raja.

Kebaikan dari kelompok pertama, kelompok kedua tidak menggunakan warna apapun juga. Mereka hanya membersihkan dinding2 rumah mereka. Sehingga cerah dan berkilau.
Akibatnya, semua warna yg melekat pada dinding kelompok pertama terpantul pada dinding kelompok kedua dan menimbulkan efek pendistorsian serta menampilkan bayangan imajiner akan warna yg lebih indah daripada kelompok pertama.
Begitu melihat hal itu, pujian jg keheranan sang Raja memuncak menjadi sebuah pengetahuan aka tersibaknya mister “Pengenalan dan pembersihan diri”…

__________________

“Jalan satu-satunya untuk menuju kecermelangan hati adalah dengan membersihkannya. Dari jiwa-jiwa yang bersih akan terpantul sifat-sifat profetik dan ketuhanan

4F

Banyak orang menilai kesuksesan dari berapa banyak harta yg mereka kumpulkan.
Ada jg yang menilai dari apa yg mereka raih dengan semangat dan usaha mereka.

semua itu benar, karena sukses adalah pencapaian suatu target yg telah ditetapkan.

Kesuksesan memerlukan sistem untuk mencapai target,salah 1 sistem sukses yang utama adalah”bertindak cepat disaat tepat”.

Ketepatan blm tentu cepat, dan tepat tidak harus cepat.

Dengan sistem 4F (focus-fast-flexible-friendship) anda bisa bertindak cepat dengan hasil tepat.

#Focus
– pelajari sasaran kasus yang anda tuju,hitung Potensial problem dan Potensial income. Bila Potensial problem kecil, maka segera eksekusi /laksanakan.

#Fast
– jika sudah yakin dengan target anda, segerakan melaksanakan tanpa menunda sedetikpun

# Flexible
– keluwesan bertindak sangat diperlukan agar kecepatan yg sudah diperhitungkan tidak terganggu oleh pesaing. Keluwesan diperlukan demi kenyamanan saat bertindak

#Friendship
– selalu bersahabat dgn calon pembeli atau pelanggan. Jgn pernah kecewa bila tidak terjadi transaksi, tetap ramah dan bersahabat dlm keadaan apapun.

Tanpa sistem dijamin tidak akan tepat dalam bertindak dan hasilnya pasti pailit.

Ketepatan menggunakan perhitungan yang cermat. kecepatan menggunakan niat dan semangat.

HAJI

Pada suatu hari, setiba kembali Asy-Syibliy dari Makkah selesai menunaikan Ibadah Haji, ia memerlukan datang untuk menghadap gurunya (Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin ra) untuk menyampaikan pengalaman-pengalamannya. Dalam pertemuan tersebut, berlangsunglah dialog sebagi berikut :

ZA : “Hai Syibliy, anda telah menunaikan Ibadah Haji, bukan?“
Sy : “Ya benar, semoga Alloh berkenan menerimanya“. (
 ZA : “Ketika anda mandi dan membersihkan diri sebelum ihrom, apakah anda juga berniat membersihkan diri dari semua perbuatan dosa?”.
 Sy : “Tidak“. :-V
 ZA : “Kalau begitu berarti anda tidak berhenti di Miqot, tidak menanggalkan pakaian berjahit, dan tidak pula mandi membersihkan diri“. *tear*

Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bertanya lebih lanjut :
ZA : “Ketika anda mandi, ber-ihrom dan mengucapkan niat menunaikan ibadah Hajji, apakah anda telah membulatkan niat dan tekad hendak membersihkan diri anda dan ‘mencucinya‘ dengan pancaran sinar tobat yang setulus-tulusnya kepada Alloh?”.
Sy : “Tidak“. 🙁
 ZA : “Pada saat ber-ihrom apakah anda berniat menjauhkan diri dari segala yang diharamkan Alloh ‘Azza wa Jalla?”.
 Sy : “Tidak“. :-V
 ZA : “Setelah anda dalam keadaan sedang menunaikan ibadah haji, termasuk semua ketentuan yang mengikat diri anda, apakah anda merasa telah melepaskan diri dari semua jenis ikatan keduniaan, dan hanya mengikatkan diri kepada Alloh Swt?”.
 Sy : “Tidak“. X-G
 ZA : “Kalau begitu anda belum membersihkan diri, belum berihrom dan belum mengikatkan diri dengan ibadah Haji…… ” :'( :'(
 ZA: “Bukankah anda telah memasuki Miqot, telah menunaikan sholat ihrom dua rokaat, kemudian mengucapkan talbiyah (ucapan Labbaika Alloohumma labbaika / ya Alloh kutaati kupenuhi panggilan-Mu)?”.
Sy : “Ya, semua itu telah saya kerjakan“. *tear*
 ZA : “Pada saat memasuki Miqot, apakah anda berniat ziarah mendekati keridloan Alloh semata?”.
 Sy : “Tidak“. p(-_-)
 ZA : “Pada saat menunaikan sholat ihrom dua rokaat, apakah anda berniat taqorrub (mendekatkan diri) kepada Alloh Swt dengan tekad hendak memperbanyak amal ibadah yang tertinggi nilainya, yaitu sholat-sholat sunah?”.
 Sy : “Tidak“. X-O
 ZA : “Kalau begitu berarti anda belum memasuki Miqot, belum mengucap talbiyah dan menunaikan sholat ihrom dua rokaat. *noooo*^(._.)^:'(:'(

ZA: “Apakah anda telah memasuki Masjidil Haram, menatap Ka’bah dan menunaikan sholat disana?”.
Sy : “Ya, itu semua telah saya lakukan“. *tear*
 ZA : “Pada saat memasuki Masjidil Haram, apakah anda berniat bulat mengharamkan diri dari segalabbentuk perbuatan mempergunjingkan orang muslim?”.
 Sy : “Tidak“. (-_-)
 ZA : “Setiba di kota Makkah, apakah anda membulatkan keyakinan sekokoh-kokohnya bahwa Alloh Swt adalah tujuan hidup satu-satunya?”.
 Sy : “Tidak“. ^(._.)^
 ZA : “Kalau begitu berarti anda belum memasuki Masjidil Haram, belum menatap Ka’bah dan belum menunaikan sholat di tempat itu….. :'( :'(
 ZA: “Apakah anda telah bertawaf mengitari Ka’bah Baitulloh dan telah pula menyentuh sudut-sudutnya?”
Sy : “Ya, saya telah bertawaf“. :^>
 ZA : “Pada saat bertawaf apakah anda berniat jalan atau lari menuju keridloan Alloh Yang Maha Mengetahui?”.
Sy : “Tidak“. X(#)
 ZA : “Kalau begitu berarti anda belum bertawaf dan belum menyentuh sudut bangunan Ka’bah (tempat Hajar Aswad). ~:-)
 ZA: “Apakah anda telah berjabat tangan (yakni memegang dan menciumnya) dan telah pula menunaikan sholat di Maqom Ibrohim?”.
 Sy : “Ya, benar …. Itu telah saya lakukan“. 😐 Mendengar jawaban Asy-Syibliy itu, Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin tiba-tiba menangis :'(:'( dan meratap seolah-olah hendak meninggalkan dunia ini :
“Ya …. Sungguh benarlah, barangsiapa berjabat tangan dengan Hajar Aswad, seolah-olah ia berjabat tangan dengan Alloh!!! Karena itu ingatlah baik-baik wahai manusia, janganlah sekali-kali berbuat sesuatu yang dapat menghilangkan martabat kalian,, Janganlah sekali-kali memerosotkan kehormatan kalian sendiri dengan berbuat maksiat dan durhaka kepada Alloh. Jagalah diri baik-baik, janganlah kalian melakukan sesuatu yang diharamkan.*tear*

Setelah Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin reda menangisnya, beliau bertanya lagi :

ZA : “Ketika berdiri di maqom Ibrohim, apakah anda membulatkan tekad hendak tetap berdiri di atas kebenaran dan ketaatan kepada Alloh serta bertekad hendak meninggalkan segala bentuk maksiat?”.
Sy : “Tidak…. Ketika itu tekad belum saya ucapkan sebagai niat … “. :-V
 Za : “Ketika menunaikan sholat dua roka’at di Maqom Ibrohim, apakah anda bertekad hendak mengikuti jejak Nabi Ibrohim as baik dalam hal sholat dan sembah sujudnya kepada Alloh Swt maupun maupun dalam hal kegigihannya menentang bisikan setan?”.
 Sy : “Tidak“. 🙁
 ZA : “Kalau begitu berarti anda belum berjabat tangan dengan Hajar Aswad, belum berdiri di Maqom Ibrohim dan belum pula menunaikan sholat dua rokaat di atasnya …. *tear*
 ZA: “Apakah anda telah memusatkan pandangan ke sumur Zamzam dan meneguk airnya?”.
 Sy : “Ya, itu telah saya lakukan“. O.o
 ZA : “Apakah pada saat anda sedang memandangnya, anda menumpahkan seluruh perhatian kepada usaha untuk mematuhi semua perintah Alloh Swt, dan apakah pada saat itu anda berniat menutup mata dari segala macam maksiat?”.
 Sy : “Tidak“. p(-_-)
 ZA : “Kalau begitu berarti anda belum memusatkan pandangan ke sumur Zamzam dan belum meneguk Airnya ….. :'( :'( :'(
 ZA: “Apakah anda telah bersa’i (berjalan ulang-alik) antara Shofa dan Marwah?”.
Sy : “Ya, benar… saya telah melakukannya“.
ZA : “Apakah pada saat itu anda menumpahkan seluruh harapan akan rahmat Alloh dan merasa takut gemetaran menghadapi kemungkinan azab siksa-Nya?”.
Sy : “Tidak“. 🙁
 ZA : “Kalau begitu anda belum bersa’i antara bukit Shofa dan bukit Marwah! :'(

MATA HATI YANG TERBUTA

TASAWUF AL-HIKAM

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــمِ

HIKMAH 5 : MATA HATI YANG BUTA

Sering penyebutan mata hati ini dinamakan  mata dalam. Istilah ‘mata dalam’ digunakan untuk membedakan  dengan mata yang lahiriah, yaitu mata yang dimiliki oleh raga lahir yang terletak di bawah alis dan dihiasi dengan idep (bulu mata).Raga lahir terbentuk dan terdiri dari daging, darah, tulang, sumsum, rambut, kulit, air dan lain-lain. Raga lahir ini berkemampuan  melihat, mendengar, mencium, merasa dan menyentuh dll. Raga lahir memperoleh kehidupan karena adanya aliran darah ke seluruh tubuh dan aliran nyawa dalam bentuk uap atau gas yang keluar masuk melalui hidung dan mulut.

Jika darahnya dikeringkan atau dibekukan ataupun jika aliran uap yang keluar masuk itu disumbat maka Raga lahir akan mengalami satu keadaan dimana semua bagiannya terhenti berfungsi dan itu dinamakan mati!Raga lahir ini dapat dikatakan bahwa ia terdiri dari tubuh dan nyawa serta indra yang dapat mengenal sesuatu yang lahiriah. Pusat pengendalinya ialah otak yang mengendalikan gerak daya panca indra dan juga mencetuskan daya timbang oleh akal fikiran. Manusia bukan hanya mempunyai raga lahir, dia juga memiliki “Diri batin”.

Diri batin juga mempunyai susunan yang sama seperti Raga lahir tetapi dalam keadaan ghaib. Diri batin juga mempunyai tubuh yang dipanggil kalbu atau hati. Hati yang dimaksudkan bukanlah  segumpal daging yang berada didalam tubuh. Ia merupakan hati rohani, hati sanubari atau hatinurani. Ia bukan alam kasar. Karenanya ‘Diri batin’ tidak dapat dipengaruhi oleh pancaindera lahiriah.Ia masuk dalam wilayah ghaib yang diistilahkan sebagai “Latifah Rabbaniah” atau  “badan halus” yang menjadi rahasia ketuhanan. Apabila di dalam keadaan suci bersih, maka “Diri batin” dapat mendekat Tuhan bahkan dapat ‘melihat’ Tuhan. Diri batin dengan ‘tubuhnya’ yg disebut ‘hatinurani’ juga dilihat Tuhan.

آمِيّنْ.. آمِيّنْ.. يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْن..آللّهُمَ آمِي

RAJA PENGEMIS

Abu Ishaq, seorang Sufi yg terkemuka pada zaman nya. Beliau adalah seorang raja dikerajaan yg kaya raja, tapi memilih meninggalkan duniawi  setelah kesadaran spiritualnya muncul, dan dia hidup cukup sebagai buruh jaga kebun dan tukang petik panen.
___________

RAJA PENGEMIS

Suatu hari ada Seorang lelaki membawakan Abu ishaq sekantong uang senilai seribu dinar.

” Tuan, aku ingin menyumbangkan uang ini kepada engkau. Mohon diterima” katanya.

” Maaf, aku tidak menerima apapun dari pengemis” jawab Abu ishaq

“Tampaknya engkau salah, Tuan. Aku bukan pengemis, aku orang kaya, aku orang terkaya di daerah ini.” tukas lelaki itu seakan tidak puas dengan kata2 Abu ishaq

” Apakah engkau ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dari yg engkau miliki saat ini?” bukan nenanggapi tapi Abu malah balik bertanya kepada lelaki itu

” tentu saja!” jawab lelaki itu
” kalau begitu, bawalah uang mu kembali. Engkau adalah raja para pengemis. Sesungguhnya engkau bukan hanya miskin, melainkan sangat miskin” Kata Abu Ishaq.

___________________

“Orang miskin bukanlah yang tidak punya harta, melainkan Orang yang tak pernah puas terhadap apa yang ada pada dirinya.”