Nalang Mulya Utama

Latest Posts

HAJI

Pada suatu hari, setiba kembali Asy-Syibliy dari Makkah selesai menunaikan Ibadah Haji, ia memerlukan datang untuk menghadap gurunya (Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin ra) untuk menyampaikan pengalaman-pengalamannya. Dalam pertemuan tersebut, berlangsunglah dialog sebagi berikut :

ZA : “Hai Syibliy, anda telah menunaikan Ibadah Haji, bukan?“
Sy : “Ya benar, semoga Alloh berkenan menerimanya“. (
 ZA : “Ketika anda mandi dan membersihkan diri sebelum ihrom, apakah anda juga berniat membersihkan diri dari semua perbuatan dosa?”.
 Sy : “Tidak“. :-V
 ZA : “Kalau begitu berarti anda tidak berhenti di Miqot, tidak menanggalkan pakaian berjahit, dan tidak pula mandi membersihkan diri“. *tear*

Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin bertanya lebih lanjut :
ZA : “Ketika anda mandi, ber-ihrom dan mengucapkan niat menunaikan ibadah Hajji, apakah anda telah membulatkan niat dan tekad hendak membersihkan diri anda dan ‘mencucinya‘ dengan pancaran sinar tobat yang setulus-tulusnya kepada Alloh?”.
Sy : “Tidak“. 🙁
 ZA : “Pada saat ber-ihrom apakah anda berniat menjauhkan diri dari segala yang diharamkan Alloh ‘Azza wa Jalla?”.
 Sy : “Tidak“. :-V
 ZA : “Setelah anda dalam keadaan sedang menunaikan ibadah haji, termasuk semua ketentuan yang mengikat diri anda, apakah anda merasa telah melepaskan diri dari semua jenis ikatan keduniaan, dan hanya mengikatkan diri kepada Alloh Swt?”.
 Sy : “Tidak“. X-G
 ZA : “Kalau begitu anda belum membersihkan diri, belum berihrom dan belum mengikatkan diri dengan ibadah Haji…… ” :'( :'(
 ZA: “Bukankah anda telah memasuki Miqot, telah menunaikan sholat ihrom dua rokaat, kemudian mengucapkan talbiyah (ucapan Labbaika Alloohumma labbaika / ya Alloh kutaati kupenuhi panggilan-Mu)?”.
Sy : “Ya, semua itu telah saya kerjakan“. *tear*
 ZA : “Pada saat memasuki Miqot, apakah anda berniat ziarah mendekati keridloan Alloh semata?”.
 Sy : “Tidak“. p(-_-)
 ZA : “Pada saat menunaikan sholat ihrom dua rokaat, apakah anda berniat taqorrub (mendekatkan diri) kepada Alloh Swt dengan tekad hendak memperbanyak amal ibadah yang tertinggi nilainya, yaitu sholat-sholat sunah?”.
 Sy : “Tidak“. X-O
 ZA : “Kalau begitu berarti anda belum memasuki Miqot, belum mengucap talbiyah dan menunaikan sholat ihrom dua rokaat. *noooo*^(._.)^:'(:'(

ZA: “Apakah anda telah memasuki Masjidil Haram, menatap Ka’bah dan menunaikan sholat disana?”.
Sy : “Ya, itu semua telah saya lakukan“. *tear*
 ZA : “Pada saat memasuki Masjidil Haram, apakah anda berniat bulat mengharamkan diri dari segalabbentuk perbuatan mempergunjingkan orang muslim?”.
 Sy : “Tidak“. (-_-)
 ZA : “Setiba di kota Makkah, apakah anda membulatkan keyakinan sekokoh-kokohnya bahwa Alloh Swt adalah tujuan hidup satu-satunya?”.
 Sy : “Tidak“. ^(._.)^
 ZA : “Kalau begitu berarti anda belum memasuki Masjidil Haram, belum menatap Ka’bah dan belum menunaikan sholat di tempat itu….. :'( :'(
 ZA: “Apakah anda telah bertawaf mengitari Ka’bah Baitulloh dan telah pula menyentuh sudut-sudutnya?”
Sy : “Ya, saya telah bertawaf“. :^>
 ZA : “Pada saat bertawaf apakah anda berniat jalan atau lari menuju keridloan Alloh Yang Maha Mengetahui?”.
Sy : “Tidak“. X(#)
 ZA : “Kalau begitu berarti anda belum bertawaf dan belum menyentuh sudut bangunan Ka’bah (tempat Hajar Aswad). ~:-)
 ZA: “Apakah anda telah berjabat tangan (yakni memegang dan menciumnya) dan telah pula menunaikan sholat di Maqom Ibrohim?”.
 Sy : “Ya, benar …. Itu telah saya lakukan“. 😐 Mendengar jawaban Asy-Syibliy itu, Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin tiba-tiba menangis :'(:'( dan meratap seolah-olah hendak meninggalkan dunia ini :
“Ya …. Sungguh benarlah, barangsiapa berjabat tangan dengan Hajar Aswad, seolah-olah ia berjabat tangan dengan Alloh!!! Karena itu ingatlah baik-baik wahai manusia, janganlah sekali-kali berbuat sesuatu yang dapat menghilangkan martabat kalian,, Janganlah sekali-kali memerosotkan kehormatan kalian sendiri dengan berbuat maksiat dan durhaka kepada Alloh. Jagalah diri baik-baik, janganlah kalian melakukan sesuatu yang diharamkan.*tear*

Setelah Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin reda menangisnya, beliau bertanya lagi :

ZA : “Ketika berdiri di maqom Ibrohim, apakah anda membulatkan tekad hendak tetap berdiri di atas kebenaran dan ketaatan kepada Alloh serta bertekad hendak meninggalkan segala bentuk maksiat?”.
Sy : “Tidak…. Ketika itu tekad belum saya ucapkan sebagai niat … “. :-V
 Za : “Ketika menunaikan sholat dua roka’at di Maqom Ibrohim, apakah anda bertekad hendak mengikuti jejak Nabi Ibrohim as baik dalam hal sholat dan sembah sujudnya kepada Alloh Swt maupun maupun dalam hal kegigihannya menentang bisikan setan?”.
 Sy : “Tidak“. 🙁
 ZA : “Kalau begitu berarti anda belum berjabat tangan dengan Hajar Aswad, belum berdiri di Maqom Ibrohim dan belum pula menunaikan sholat dua rokaat di atasnya …. *tear*
 ZA: “Apakah anda telah memusatkan pandangan ke sumur Zamzam dan meneguk airnya?”.
 Sy : “Ya, itu telah saya lakukan“. O.o
 ZA : “Apakah pada saat anda sedang memandangnya, anda menumpahkan seluruh perhatian kepada usaha untuk mematuhi semua perintah Alloh Swt, dan apakah pada saat itu anda berniat menutup mata dari segala macam maksiat?”.
 Sy : “Tidak“. p(-_-)
 ZA : “Kalau begitu berarti anda belum memusatkan pandangan ke sumur Zamzam dan belum meneguk Airnya ….. :'( :'( :'(
 ZA: “Apakah anda telah bersa’i (berjalan ulang-alik) antara Shofa dan Marwah?”.
Sy : “Ya, benar… saya telah melakukannya“.
ZA : “Apakah pada saat itu anda menumpahkan seluruh harapan akan rahmat Alloh dan merasa takut gemetaran menghadapi kemungkinan azab siksa-Nya?”.
Sy : “Tidak“. 🙁
 ZA : “Kalau begitu anda belum bersa’i antara bukit Shofa dan bukit Marwah! :'(

MATA HATI YANG TERBUTA

TASAWUF AL-HIKAM

بِسْـــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــــمِ

HIKMAH 5 : MATA HATI YANG BUTA

Sering penyebutan mata hati ini dinamakan  mata dalam. Istilah ‘mata dalam’ digunakan untuk membedakan  dengan mata yang lahiriah, yaitu mata yang dimiliki oleh raga lahir yang terletak di bawah alis dan dihiasi dengan idep (bulu mata).Raga lahir terbentuk dan terdiri dari daging, darah, tulang, sumsum, rambut, kulit, air dan lain-lain. Raga lahir ini berkemampuan  melihat, mendengar, mencium, merasa dan menyentuh dll. Raga lahir memperoleh kehidupan karena adanya aliran darah ke seluruh tubuh dan aliran nyawa dalam bentuk uap atau gas yang keluar masuk melalui hidung dan mulut.

Jika darahnya dikeringkan atau dibekukan ataupun jika aliran uap yang keluar masuk itu disumbat maka Raga lahir akan mengalami satu keadaan dimana semua bagiannya terhenti berfungsi dan itu dinamakan mati!Raga lahir ini dapat dikatakan bahwa ia terdiri dari tubuh dan nyawa serta indra yang dapat mengenal sesuatu yang lahiriah. Pusat pengendalinya ialah otak yang mengendalikan gerak daya panca indra dan juga mencetuskan daya timbang oleh akal fikiran. Manusia bukan hanya mempunyai raga lahir, dia juga memiliki “Diri batin”.

Diri batin juga mempunyai susunan yang sama seperti Raga lahir tetapi dalam keadaan ghaib. Diri batin juga mempunyai tubuh yang dipanggil kalbu atau hati. Hati yang dimaksudkan bukanlah  segumpal daging yang berada didalam tubuh. Ia merupakan hati rohani, hati sanubari atau hatinurani. Ia bukan alam kasar. Karenanya ‘Diri batin’ tidak dapat dipengaruhi oleh pancaindera lahiriah.Ia masuk dalam wilayah ghaib yang diistilahkan sebagai “Latifah Rabbaniah” atau  “badan halus” yang menjadi rahasia ketuhanan. Apabila di dalam keadaan suci bersih, maka “Diri batin” dapat mendekat Tuhan bahkan dapat ‘melihat’ Tuhan. Diri batin dengan ‘tubuhnya’ yg disebut ‘hatinurani’ juga dilihat Tuhan.

آمِيّنْ.. آمِيّنْ.. يَا رَ بَّ العَـــالَمِيْن..آللّهُمَ آمِي

RAJA PENGEMIS

Abu Ishaq, seorang Sufi yg terkemuka pada zaman nya. Beliau adalah seorang raja dikerajaan yg kaya raja, tapi memilih meninggalkan duniawi  setelah kesadaran spiritualnya muncul, dan dia hidup cukup sebagai buruh jaga kebun dan tukang petik panen.
___________

RAJA PENGEMIS

Suatu hari ada Seorang lelaki membawakan Abu ishaq sekantong uang senilai seribu dinar.

” Tuan, aku ingin menyumbangkan uang ini kepada engkau. Mohon diterima” katanya.

” Maaf, aku tidak menerima apapun dari pengemis” jawab Abu ishaq

“Tampaknya engkau salah, Tuan. Aku bukan pengemis, aku orang kaya, aku orang terkaya di daerah ini.” tukas lelaki itu seakan tidak puas dengan kata2 Abu ishaq

” Apakah engkau ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dari yg engkau miliki saat ini?” bukan nenanggapi tapi Abu malah balik bertanya kepada lelaki itu

” tentu saja!” jawab lelaki itu
” kalau begitu, bawalah uang mu kembali. Engkau adalah raja para pengemis. Sesungguhnya engkau bukan hanya miskin, melainkan sangat miskin” Kata Abu Ishaq.

___________________

“Orang miskin bukanlah yang tidak punya harta, melainkan Orang yang tak pernah puas terhadap apa yang ada pada dirinya.”

PENCURI KUE

Sebuah Renungan yg bagus,suatu malam seorg wanita sedang menunggu dibandara msh ada bebrp jam seblm jadwal penerbangannya tiba.
Utk mengisi waktu, ia membeli buku & sekantong kue.Setelah duduk, wanita tsb membaca buku sambil memakan kue yg baru dibelinya. Dlm keasyikannya, ia melihat lelaki di sebelahnya dg berani ikut mengambil kue yg berada di antara mrk berdua. Setiap ia mengambil 1 kue, si lelaki itu juga mengambil 1.

Wanita tsb mencoba mengabaikan agar tdk terjadi keributan. Ia terus membaca, mengunyah kue. Sementara menit2 pun berlalu, ternyata si “Pencuri Kue” yg lancang itu menghabiskan persediaannya. Wanita itu sempat berpikir: “Kalau aku tdk sedang blajar menahan amarah , tentu sudah ku tonjok dia!”.Ia menghela nafas lega saat penerbangannya di umumkan, & ia segera beranjak menuju pintu gerbang.
Ia naik ke pesawat & duduk di kursinya, lalu mencari buku yg hampir selesai di bacanya. Saat merogoh tasnya, dia menahan nafas krn kaget. Ternyata di situ ada…kantong kuenya! “Ya ampun Knp kue ku ada di sini? Jadi kue tadi milik siapa? Milik lelaki itu?”Lemas & tersadar ia bergumam: sesungguhnya, akulah si “Pencuri Kue” bukan lelaki itu Ah!!, terlambat sdh utk meminta maaf…Dlm hidup ini,,
kisah spt diatas sering terjadi. Aku sering melihat orang lain dg kacamataku sendiri, & tak jarang aku berprasangka buruk.Orang lain yg selalu salah…Orang lain yg tak tahu diri…Orang lain yg patut disingkirkan…Orang lain yg selalu bikin masalah… Sementara… Aku berpikir bhw aku yg berbaik hati, paling benar, paling tinggi, paling pintar, paling suci… dst….Sejak detik ini, bisakah aku memulai untuk rendah hati…Yg tdk hanya pintar mencari kesalahan orang lain…
Yg sering tidak sadar menjadi “Pencuri Kue” namun malah menuduhkan kepada orang lain…

Perlu hati dan jiwa yg besar, tentunya…